Rabu, 05 September 2012

[Kekayaan Alam, Flora & Fauna] Mengenal Fauna yang Identik dengan Lambang Negara Kita


Mengenal Fauna yang Identik dengan Lambang Negara Kita

Elang Jawa atau dalam nama ilmiahnya Nisaetus bartelsi adalah salah satu spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa.
Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia. Nama latin untuk elang jawa kini resminya telah berganti dari Spizaetus bartelsi menjadi Nisaetus bartelsi.



Code:
Populasi dan Habitat Elang Jawa
Spoiler for wow:

Populasi burung Elang Jawa di alam bebas diperkirakan tinggal 600 ekor. Badan Konservasi Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa mengategorikannya terancam punah. Konvensi Perdagangan Internasional untuk Flora dan Fauna yang Terancam Punah memasukkannya dalam Apendiks 1 yang berarti mengatur perdagangannya ekstra ketat. Berdasarkan kriteria keterancaman terbaru dari IUCN, Elang Jawa dimasukan dalam kategori Endangered atau �Genting� (Collar et al., 1994, Shannaz et al., 1995). Melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional, Pemerintah RI mengukuhkan Elang Jawa sebagai wakil satwa langka dirgantara.

Habitat burung Elang Jawa hanya terbatas di Pulau Jawa, terutama di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan.Bahkan saat ini, habitat burung ini semakin menyempit akibat minimnya ekosistem hutan akibat perusakan oleh manusia, dampak pemanasan global, dan dampak pestisida.
Di Jawa Barat, Elang Jawa hanya terdapat di Gunung Pancar, Gunung Salak, Gunung Gede Pangrango, Papandayan, Patuha dan Gunung Halimun.
Di Jawa Tengah Elang Jawa terdapat di Gunung Slamet, Gunung Ungaran, Gunung Muria, Gunung Lawu, dan Gunung Merapi, sedangkan
Di Jawa Timur terdapat di Merubetiri, Baluran, Alas Purwo, Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, dan Wilis.

Code:
Karakteristik Elang Jawa

Spoiler for wow:


Elang yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 cm (dari ujung paruh hingga ujung ekor). Kepala berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm) dan tengkuk yang coklat kekuningan (kadang nampak keemasan bila terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawomatang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang nampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar.Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera (daging di pangkal paruh) kekuningan; kaki (jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis. Ketika terbang, elang Jawa serupa dengan elang brontok (Nisaetus cirrhatus) bentuk terang, namun cenderung nampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil. Bunyi nyaring tinggi, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli. Sedikit banyak, suaranya ini mirip dengan suara elang brontok meski perbedaannya cukup jelas dalam nadanya.


Terancam Punah 5 Tahun Mendatang
Spoiler for wow:

Metrotvnews.com, Jakarta: Satwa langka elang Jawa yang dilindungi terancam kepunahan. Dalam lima tahun mendatang diperkirakan hewan ini akan punah karena habibatnya semakin bekurang.

Hal itu dikatakan peneliti burung Susanti Withaningsih di kantor Biro Perencanan dan Kerjasama Luar Negeri (PKLN) Kemendikbud, Jakarta, Selasa (3/4).

Menurut Susanti, elang Jawa merupakan hewan langka di dunia karena bersifat endemik yaitu hanya berada di pulau Jawa saja. Populasinya saat ini semakin berkurang dan hanya tinggal 100 pasang.

Susanti mengemukakan dari penelitiannya, habitat elang Jawa makin berkurang akibat perubahan makin banyaknya hutan yang kini berubah fungsi.

Dengan kondisi itu, banyak pohon tempat burung elang bersarang berkurang. "Jadi habitatnya semakin rusak sehingga keberadaan elang semakin terancam," ungkap Susanti yang juga Kordinator Kerjasama Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Program Pasca-Sarjana Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung.

Untuk mengatasi kelangkaan dan mengurangi kepunahan elang Jawa, ia mengemukan pentingnya strategi menjaga hutan alam, mengurangi perubahan tata guna lahan, kepedulian pecinta burung, dan kepedulian pemerintah terhadap keberadaan elang tersebut terutama dari Departemen Kehutanan. (MI/Wrt3)



sumber :http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=15901069

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar