Rabu, 12 September 2012

Gaya Sarapan Negara Lain

Femina Info Kuliner
Inilah gaya sarapan di Amerika, Prancis, Italia, Inggris, dan Australia:

Terselamatkan Bagel di Amerika!
Banyaknya coffee shops membuat orang Amerika senang mampir untuk secangkir kopi, di tengah perjalanan menuju kantor. Starbucks Coffee terpopuler, berkat cabangnya yang merajai. Target selanjutnya adalah deli (delicatessen), toko yang menjual aneka roti dan isiannya (terutama cold cuts, daging olahan). Para eksekutif ini akan mampir membeli sandwich atau pretzel. Di New York, jantung metropolitan, bagel, roti liat berisi olesan cream cheese, jadi favorit. Pebisnis melahapnya sambil bergegas masuk ke dalam subway. Kepraktisan menyantap menu sarapan tanpa harus sambil duduk!

Di rumah, bagi anak-anak, waffle dan pancake hangat selalu menanti di meja. Manis dengan siraman sirop maple. Jika para ibu tak punya waktu, sereal jadi jawaban. Sereal, yang siap sekejap tanpa perlu menyalakan api kompor, memang tak cuma penolong di rumah tangga Amerika, tapi juga di kota-kota besar dunia.

Saat waktu memungkinkan, sarapan lengkap yang tidak ‘instan’ juga dinikmati warga Amerika. Berteman hash brown, potongan kecil kentang yang digoreng berbentuk dadar, bacon dan telur mata sapi jadi sumber protein favorit. Bisa dinikmati di banyak kafe penyaji menu sarapan dengan harga terjangkau.

Resto-resto penyaji menu sarapan juga muncul sejak puluhan tahun lalu, seperti IHOP dan Original Pancake House. Walaupun dimulai pukul 7 – 10 pagi, uniknya banyak resto sejenis ini yang buka 24 jam, sehingga lumrah mendatanginya sepanjang hari.

Sarapan Petit Gaya Prancis
Negeri ini memang terkenal dengan gaya makan dengan porsi yang mini. Dalam buku yang menjadi New York Times best-seller, French Woman Don’t Get Fat, karangan Mireille Guiliano, terungkap fakta bahwa menyantap makanan dalam porsi kecil menjadi salah satu alasan yang membuat wanita Prancis jarang yang bertubuh gemuk, meski orang Prancis terbiasa makan teratur 3 kali sehari, menikmati roti, wine, dan pastry yang lezat.

Untuk menu sarapan, roti adalah pilihan mereka. Biasanya, seporsi kecil baguette, diiris tipis, diolesi mentega dan selai buah (misalnya stroberi atau aprikot). Selain itu, croissant, brioche, atau pain au chocolat juga jadi incaran. Untuk teman roti, mereka senang meminum perlahan café au lait (espresso bercampur susu panas) yang dituang dalam cangkir jumbo. Jika sedang terburu-buru, cukup jus jeruk atau espresso.

Makan pagi mereka juga bisa disertai keju gruyère, emmental, atau brie. Karena jenis dan jumlah yang sederhana, menu sarapan dipandang sebagai sajian mungil, alias petit dejeuner (petit= kecil, dejeuner= makan siang).

Di Prancis, boulangerie, atau toko roti, ada di mana-mana. Terkadang, satu blok gedung apartemen bisa memiliki lima lokasi boulangerie yang saling berdekatan. Cukup jalan kaki selama 5 menit! Karenanya, orang Prancis beruntung bisa membelinya fresh from the oven setiap pagi. Kebanyakan, toko roti di Prancis pun sudah buka sejak pukul 5 pagi. Biasanya, makin tua resep rotinya, tokonya makin laris. Seperti boulangerie legendaris di Paris yang jadi antrean, yakni Poilâne dan Moulin de la Vierge.

Banyak turis bahkan mengincar suasana sarapan ala Paris. Duduk-duduk santai di kafe pinggir jalan, atau di dalam boulangerie yang kaya aroma roti, atau sekadar duduk-duduk menghadap taman atau Sungai Seine di Paris.

Coffee Culture di Italia
Italia dan kopi adalah 2 sejoli yang tak mungkin terpisahkan. Meski biji kopi bukan berasal dari Italia, coffee culture terlahir di negara ini. Tanpa ‘jasa’ Italia, mungkin tak akan pernah ada coffee shop yang kini jadi gaya hidup di hampir semua negara.

Cappuccino yang sarat susu adalah minuman pagi favorit warga Italia. Kopi hitam biasanya baru diminum setelah sarapan usai, yakni di atas pukul 11. Cappuccino ditemani roti tawar yang kerap diolesi selai hazelnut. Dibanding sajian gurih seperti telur, sosis, maupun ham, pola sarapan on-the-go mereka adalah biscotti, yakni biskuit seperti roti kering, dengan rasa vanilla, cokelat, atau moka. Juga diolesi selai hazelnut sesaat sebelum dimakan.

Akhir pekan jadi waktu perayaan sarapan. Dimulai dari pukul 7 hingga 11, warga Italia berpesta menikmatinya di kedai kopi yang jumlahnya berlimpah. Terutama generasi muda. Kopi ditemani corneto, yakni croissant isi cokelat.
Di rumah, hampir semua orang memiliki cerek kopi mungil dari baja berjuluk moka, untuk membuat espresso. Seporsi espresso dari moka, dituang ke dalam gelas, dan dicampur susu. Anda di Indonesia mungkin mengenal cerek ini di bawah merek Bialetti.

Selalu Ada Teh di Inggris
Inggris adalah salah satu negara yang lekas mengadaptasi kebiasaan makan sereal gaya Amerika, sekaligus pengonsumsi sereal tertinggi di Eropa. Inggris baru mencicipi sereal pertamanya pada tahun 1924. Saat itu Kellog’s sedang melakukan ekspansi global dan pada tahun 1936 membuka pabriknya di sana. Sedangkan pada tahun 1979, perusahaan Jordans Cereal yang berlokasi di Berdfordshire menciptakan cereal bar pertama.

Selain sereal, santapan lain adalah buah potong (disesuaikan dengan musim), roti, dan marmalade (selai jeruk). Minumannya, secangkir teh yang dicampur susu dan gula. Sarapan ditemani teh petikan wilayah jajahannya, seperti India, Kenya, dan Sri Lanka, begitu difavortikan Ratu Victoria. Istilah untuk jenis teh, English Breakfast Tea, konon memulai sejarahnya di sini. Nama ini muncul sebagai sebutan orang Amerika untuk teh yang dijual oleh imigran Inggris kala itu.

Full English Breakfast, tinggi protein dan karbohidrat, kerap tersaji di waktu luang di akhir pekan. Terdiri dari telur, bacon, sosis, baked beans, tomat iris, tumis jamur, dan roti tawar. Kedgeree, rice pudding ala India, juga meluas. Dibawa oleh para tentara kolonial Inggris sekembalinya mereka dari India. Kebetulan ini merupakan salah satu sajian sarapan favorit mereka selama merantau. Makan pagi yang biasanya dinikmati pukul 7 – 9 ini juga memiliki menu yang berbeda di musim dingin. Kala cuaca dingin, yang jadi andalan biasanya adalah semangkuk havermut .

Vegemite, Australian ‘Idol’!
Warga Australia kerap menikmati sarapan praktis dengan semangkuk sereal atau roti tawar. Kopi dan teh tidak menjadi pilihan yang populer, karena sebagian besar dari mereka lebih memilih untuk minum jus buah dingin.

Sajian kebangsaannya adalah vegemite sandwich. Vegemite adalah selai berwarna gelap, dari ekstrak ragi yang diolah bersama gandum, seledri, jali-jali, dan bawang bombay. Vegemite juga lazim dioleskan pada crackers. Rasa vegemite yang menyerupai kaldu sapi ini terbilang unik dan mengagetkan bagi lidah awam. Di bawah inovasi Kraft, selai gurih ini berkembang dalam beberapa varian, misalnya Cheesybite (vegemite bercampur cheesespread) dan My First Vegemite (diformulasikan khusus untuk anak-anak, rasanya lebih ringan, diberi tambahan vitamin).

Menu sarapan di Australia juga mengalami pergeseran tren dalam kurun waktu 1 dekade belakangan ini. Banyak kafe yang bermunculan yang menawarkan menu makan pagi ala rumahan yang disajikan secara komunal. Menu sederhana seperti ricotta hot cakes, telur orak-arik, dan havermut yang ditawarkan. Masyarakat perkotaan seperti di Sydney kerap mengunjungi kafe seperti ini untuk menikmati makan pagi yang santai.

Sumber :http://www.femina.co.id/kuliner/info.kuliner/gaya.sarapan.negara.lain.bagian.i/004/002/159

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar