Rabu, 25 Juli 2012

Nasionalisasi Suez, jayanya Israel dan Pan-Arabisme




Nasionalisasi Suez, jayanya Israel dan Pan-Arabisme

Hari ini, 56 tahun lalu, terjadi peristiwa penting yang mengubah dunia, yaitu nasionalisasi Terusan Suez oleh Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser. Kejadian ini menandai semakin dominannya peran Israel, kemunculan gagasan Pan-Arabisme, serta pertama kalinya konsep Pasukan Perdamaian Internasional terbentuk.

Prancis membangun Terusan Suez pada 1869, berkat jasa arsitek Ferdinad de Lessep. Negeri anggur itu mengelola jalan pintas bagi kapal dagang ini bersama Pemerintah Mesir, seperti dikisahkan ulang oleh laporan khusus BBC (24/7/2006).

Jalur layar dari laut Mediterania ke Samudera Hindia bisa dilalui lebih singkat. Tidak lama, terusan ini pun menjadi favorit nyaris separuh kapal di muka bumi.

Namun, pemerintah Mesir akhirnya bangkrut. Kepemilikan saham di Suez mereka jual ke Inggris pada 1875. Negeri Ratu Elizabeth ini giliran menangguk untung setelah menguasai jalur pintas kapal itu.

Selama 87 tahun, Suez seakan-akan tambang uang dua negara imperialis ini. Situasi itu berubah usai Perang Dunia II. Timur Tengah memang runyam. Ada banyak negara ingin menancapkan pengaruh, terutama Amerika Serikat dan Soviet, Kerajaan Arab Saudi, Israel, hingga pemain lama seperti Inggris dan Prancis.

Prancis kehilangan banyak wilayah jajahan. Gagasan nasionalisme juga banyak muncul di kawasan Afrika Utara. Ancaman hilangnya Suez mulai terlihat pada 1953.

Mesir mengubah sistem kerajaan menjadi republik. Negara baru ini menuntut penarikan mundur pasukan Inggris dari wilayah mereka. Presiden pertama Mesir Abdul Nasser mulai menjalin diplomasi erat dengan China dan Uni Soviet. Sontak saja, negara Barat ketar-ketir.

Usai perang dunia, Nasser, kawan dekat Presiden Soekarno, ternyata lebih condong ke kiri. Dia selalu bersuara lantang meminta Inggris dan Prancis enyah, karena ingin merangkul negara komunis adi daya itu. "Soviet tidak pernah menjajah kami, sebaliknya Inggris selama 70 tahun terakhir menginjak-injak harga diri Bangsa Mesir," ujar Nasser pada 1955.

Setahun sebelum nasionalisasi, Nasser menjanjikan rakyatnya sebuah bendungan untuk irigasi petani di wilayah Aswan. Namun, dana Mesir tidak mencukupi.

Inggris sudah bersiap mendongkel Nasser, namun terlambat. Pada 26 Juli 1956, presiden Mesir berpidato di Kota Alexandria. Dia menyatakan seluruh aset Terusan Suez menjadi milik republik muda di kawasan Maghribi itu buat mendanai pembangunan Bendungan Aswan.

Inggris dan Prancis mengamuk. Mereka memanggil negara muda Israel yang menang telak di Perang Arab. Kebetulan, Negeri Zionis ingin mencaplok Sinai dan Jalur Gaza, undangan Inggris pun mereka terima. Tiga bulan setelah nasionalisasi, perang pun tidak terelakkan.

Perang berlangsung tak seimbang, membentang dari Sinai sampai Jalur Gaza, di laut, darat, maupun udara. Mesir dikeroyok pasukan tiga negara, kalah teknologi dan kalah jumlah. Ribuan tentara Negeri Piramida ini tewas. Ratusan ribu warga sipil jadi korban.

Namun di saat genting itu terlihat kecerdikan Nasser. Dia rangkul Soviet dan kerajaan-kerajaan di Teluk Arab. Diam-diam, Presiden Mesir itu juga menghubungi Amerika, meminta mereka terlibat, dengan imbalan pengaruh lebih besar di Timur Tengah.

Maret 1957, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menuntut trio Inggris, Prancis, Israel, menghentikan agresi. Awalnya mereka menolak, namun di bawah komando Perdana Menteri Kanada Lester B. Pearson, dikirim Pasukan Penjaga Perdamaian yang berupaya menghentikan setiap kontak senjata.

Kunci kemenangan diplomasi Mesir ada di keberhasilan Nasser menggagas Pan-Arabisme. Kerajaan Arab Saudi dia bujuk agar menekan Amerika sebagai imbalan konsesi minyak mentah. Wajar bila di Majelis Umum PBB pada 1957, Amerika getol menyatakan serangan itu melanggar aturan internasional. Sampai-sampai, demi meraih simpati Saudi, Negeri Paman Sam itu menekan perekonomian Inggris supaya berhenti menyerang dan merebut kembali Suez.

Prancis dan Inggris akhirnya meredup pamornya setelah 'kekalahan' politik dari peristiwa Suez. Mereka melepas satu per satu wilayah jajahan. Israel sebaliknya. Meski gagal menguasai sepenuhnya Sinai, mereka semakin percaya diri sebagai negara dengan kemampuan perang mumpuni. Pengaruh Negeri Zionis itu, terutama Perdana Menteri David Ben Gurion dalam kancah politik Timur Tengah juga meningkat.

Bagi Mesir, mereka merasa menang, meski secara militer kalah telak. Nasser dielu-elukan. Pan-Arabisme (ide bersatunya seluruh negara Arab) dan model pemerintahan republik seperti Mesir menginspirasi negara di Teluk. Salah satu yang langsung melakukan revolusi adalah Irak, setahun setelah insiden Suez.

Mesir dan Israel terlibat perang panjang, lama setelah insiden Suez berlalu. Namun karena pengaruh Zionis terlalu dominan, pemimpin baru Mesir, Anwar Sadat, akhirnya memilih damai dengan Perdana Menteri Israel Golda Meir pada 1975.

sumber :http://www.merdeka.com/dunia/nasionalisasi-suez-jayanya-israel-dan-pan-arabisme.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar